Baybay Einstein Lantas Masuk Kelas IPS


Butet Siregar

Harus ya aku peduli sama gaya si Lorentz? Ini pertanyaan yang sering banget terlontar waktu aku belajar Fisika di intensif SPMB.

Maksudku, come on, SPMB tinggal dua minggu. Sementara aku sama sekali tak peduli si Lorentz mau ngapain kek gayanya! Urusan banget sih?

Aku pun menatap hampa soal yang ada di depan mata hidung; SPMB 2000. Sebuah partikel yang mempunyai massa 200 mg, membawa muatan 2x10pangkatmin8 C ditembakkan secara tetak lurus dan horizontal, pada medan magnet serba sama yang horizontal dengan kecepatan 5x10pangkat4 m/s. 

Jika partikel itu tidak mengalami perubahan arah, tentukan kuat medan magnet.

Soal beginian nih, galz…

Yup! Soal-soal model gini yang sudah bawa aku wara-wiri di dunia IPA selama 3 (baca; tiga!) tahun.

Kakak mentor yang aku belum tahu namanya, tiba-tiba berkata; “Yang belum mengisi formulir, silakan diselesaikan sekarang juga. Kita akan memulainya sore ini juga, ya adik-adik!"

Tiba-tiba aku tersentak berdiri, keluar dari ruang Bimbel. Pas melewati pintu kelas, mataku plarak-plirik.

“Diiih, kenapa coba tulisan IPA di pintu ini mendadak kelihatan aneh, ya?” gumamku dalam hati. Mendadak ada yang koclak di otakku. Eh, perang sabil tepatnya.

“Ngapain coba aku di sini, yah?”

“Aneh banget gak sih?”

“Aku cinta Kimia beserta semua asam 2-metil propanoatnya.…”

“Aku sayang Echinoidea yang bulat dan bersimetri radial….”

“Aku bahagia belajar; berapa interferensi minimum di titik P dalam sebuah soal.…”

Sumpah! Aku sudah mempersiapkan SPMB IPA sejak kelas 1 SMA. Aku sudah prepare banget ambil kedokteran dan kedokteran gigi.

Tapi ada yang salah: ini tak menantang!

Aku cuma perlu buka-buka buku lama, mengingat-ingat. UAS, aku belajar ini. UAN, aku belajar ini lagi. SPMB, masa gini lagi? Boseeeen…. Aaarrgh!

Aku butuh sesuatu yang baru!

“Zhee, sudah mantap nih pilih FK UI dan FKG UI?” tanya kakak mentor, melintas di sebelahku. “Pilih kelas IPA dong….”

Waaaa…, aku beken juga di sini, yah? Baru nyadar, mentor-mentorku kebanyakan anak Rohis. Dan anak Rohis berarti suka baca novel Islami. Gini-gini aku sudah menerbitkan 8 (baca;delapan) buku, karya sendiri!

“Mmm…, bentar ya, Kak…. Duluan aja deh,” sahutku berusaha fokus.

“Kalau berhasil nembus FK atawa FKG UI….”

Aku mulai berandai-andai. Kalau sudah lulus jadi apa? Mentok-mentok jadi dokter? Professor? Peneliti? Ops, sori, anak FK dan FKG. Aku kan waktu itu lagi cupu-cupunya soal UI. Dimohon jangan sakit hati, apalagi mau balas dendam. Misalnya, nyeburin aku ke danau UI…. Woooaaa, amit-amiiit!

Aku jadi ingat senior Rohis yang baru lulus dari FH UI. Serius, gak pake nganggur segala tuh. Sekarang jadi corporate lawyer di lawfirm Singapore. Gaji awalnya 5000 USD. Yup! Seiring waktu dan kariernya yang melejit, pasti bakalan ningkat-ningkat terus tuh gajinya.

Aku pun merenung. Yeah, sedetiks aja, tak perlu lama-lama!

Terasa ada yang menggerakkan kaki-kakiku, dan gruduuug!

Aku langsung pontang-panting ke bawah. Aku lihat anak-anak sudah kelar. Kakak mentor menyodorkan formulir ke tanganku.

“Deuh, yang sudah mantap?” sindir kakak mentor.

“Iya nih, Kak, insya Allah….”

Detik itulah, aku mendaftarkan diri ke kelas IPS dengan pilihan pertama: Fakultas Hukum UI. Baybay Einstein!

Lantas Masuk Kelas IPS

Ada teman satu kelasku anak IPA, namanya Lita. Dia sobatku di sekolah, satu kelas. Nih cewek, beneran anak paling rajin seantero jagat raya. Dia ngebet kepingin Akuntansi UI yang berarti kudu ikut IPS. Dia sudah memutuskan ngambil IPS, sejak intensif dimulai.

“Ta…, loe udah ngerti yang mana aja?” tanyaku pas kakak mentor ngajarin Ekonomi. Kurva-kurva, entah mengapa, kalian harus melengkung-melengkung aneh begitu?

“Aku juga gak begitu ngerti, Zhee….”

Aku pelototin tuh buku modul di depan mata. Kalau bisa aku kepingin telan bulat-bulat. Kali saja semua materi jadi nempel kayak perangko di otakku. Hihi.

“Tapi tenang saja, Zhee.  Coba loe cermatin deh ke sekitar kita,” bisik Lita.

“Maksud loe, Ta?” aku belum paham, ikut berbisik.

“Pssst, anak-anak IPS-nya juga kayaknya…, gimana geto,” bisik Lita lagi.

Penasaran aku perhatikan. Aku cermati anak-anak IPS. Mata kuedar ke sekeliling. Ops, iya juga nih. Ngapain anak-anak, tampangnya kok terkesan; cengo-hampa-bin naas yang memilukan?

Sueeer. Aku bukan mengada-ada. Ada seorang cowok kerjanya sejak sejam lewat; buka-pake-topi, buka-pake-topi, buka-pake-topi. Beuh!

Ada apa gerangan dengan topi bututmu, wahai, Tuan Buka Pake Topi?

“Wuaduuuh! Ta, tuh anak kenapa jadi oon gitu, ya?” bisikku mingkin dekat ke kuping si Lita.

“Hmm…. Gak sekalian aja diloakkin tuh topi bututnya,” Lita ngikik perlahan, menahan geli.

Ada lagi seorang cewek dengan baju buka-bukaan. Celana jins belel bolong-bolong di paha, t-shirts kayak boleh pinjam dari adeknya. Pusernya yang bodong (sumpeee; jeleeek!) mangaaaap aja. Kayak sengaja nantangin disundut puntung kucing garong!

Pas aku perhatiin, eh, tuh cewek memang kebangetan. Jari-jarinya mainin puser bodongnya, sumpah superjeleeek! Diiiih, jijaaai…, eh, apa pornografi yah?

“Psssttt…, udah dah, Zhee… Balikkin tuh mata!”

Lita mengingatkan aku yang masih asyik jadi pengamat lingkungan. Hihi.

“Iya ya…, astaghfirullah…,” buru-buru aku mengucap istighfar.

“Ingat  Zhee, loe cuma punya waktu dua minggu!”

“Hmmm….” Kepalaku manggut-manggut kayak burung celepuk.

Nih, istilah satu ini, perasaan sudah aku bawa ke mana-mana. Sejak kelas lima SD dan mulai rajin menulis. Sensasinya masih berasa enak-enak saja tuh pas nulisnya; burung celepuk memang suka manggut-manggut, ya?

“Dua minggu buat ngejar ketinggalan dua tahun, yeah…. Insya Allah!” semangatku makin berapi-api, menggejolak liar dalam dada. Cieee, namanya juga cucu seorang pejuang ‘45. Ya kan, Opa?

Aku ingat, Mama sering ngebanggain anak-anak muda (familinya juga) di kampung Margaluyu, Cimahi.

“Kalau gak lulus ITB, ya Unpad. Jadi malah aneh kalau gak bisa nembus ITB atau Unpad,” begitu kata Mom.

“Yeeeaaah…, aku harus bisaaa!” aku teriak dalam hati.

Kepingin sih sambil ngacung-ngacungin kedua tinju ke atas kepala. Keburu nyadar, entar disangka sakit jiwa aku. Berabe!

“Shhh…, eling, Zhee…, ngapain sih buka tutup kacamata aja?” Lita ngagetin.

“Eee…, masa sih aku gitu?”

“Masa sih aku gitu? Mulai ketularan loe, ya?” Lita menatapku cemas.

“Gaklaaah… Kayaknya nih kacamata sudah waktunya diganti, Ta… Pantes gak ya kalau aku pake kontak lensa? Yang warna belau, apa oranye gitu kayak kucing garong mabok. Hihi, lucu ‘kali ya, Ta?”

Aku merepet sendiri. Tak ada sahutan. Aku lirik ke sebelah. Pantesan, si Lita fokus kembali ke Ekonomi. Aku menghela napas. Yaaah, tak ada orang yang bisa diajak ngobrol lagi nih. Baguslah, aku niatin banget belajar di hari kedua!

Pas mau pulang, seorang mentor bilang; “Siapa yang ikutan SMUP?”

Seleksi Ujian Masuk Unpad dan aku memang ikutan. 

Aku dan anak-anak yang senasib, kemudian digiring ke ruang komputer. Kita boleh browsing gratisan, di sini, kadang-kadang. Dan di situlah; ternyata namaku termasuk yang lulus, Fakultas Hukum Universitas Pajajaran!

Yo olooooh…. Girangnya aku setengah mati!

Soalnya, aku lihat waktu ujiannya di Bandung, kayaknya anak-anak rela menggadaikan nyawanya ke anak setan. Demi lulus SMUP!

“Horeee…, aku sekarang mahasiswa FH  Unpad, euy!”

Ops…, ke mana tuh si Lita?

Tak kelihatan batang hidungnya lagi…, halaah!

Waktu itu sama sekali tidak kepikiran, kita kudu bayar 40 jeti untuk menggoalkannya. Pokoknya, euphoria mulai meracuni dadaku nih. 

Aku pun ngacir pulang, langsung melempar buku-buku les ke boks buku bekas, hugh!

@@@

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama