Mendadak Terkenang Vita


Pipiet Senja

#SemangatPerjuangan

#TetapKuatPejuangThaller

Catatan; kuposting kembali tulisan ini ketika dinihari terbangun, tahajud dan mendadak terkenang seorang sahabatku yang telah tiada. Vita, semoga engkau tenang dan damai di sana, semoga kita jumpa kembali bila tiba waktuku, doaku untukmu, Vita.

Yayasan Thalassemia, inilah komunitasku yang lain. Aku bergabung dengan yayasan ini sejak tahun 1998.

Awalnya aku hanya bertelepon ria dengan seorang gadis bernama Vita. Belum ketemu saja kami sudah akrab banget, mungkin karena merasa senasib, sepenanggungan. 

Aku hanya mencoba-coba, barangkali ada yang bisa membantu kesulitanku mencari darah, desferal dan segala hal yang berkaitan dengan penyakit abadiku; Thallasemia.    

Maklum, tahun ini adalah era jatuhnya pemerintahan Orba, harga-harga melambung. Aku terpaksa harus menunda-nunda ditransfusi, merasa-rasai kesakitan sendiri dan penderitaan lahir batin akibat Thalassemia. 

Bagaimana mau ditransfusi, lha wong buat makan sehari-hari saja aku harus utang-utang ke warung. Inilah saat-saat tersulit dalam hidupku.

"Datang saja ke sini, Mbak Pipiet. Insya Allah yayasan bisa membantu," ajak Vita.

"Apa betul bisa bantu? Saya ini kan sudah tua. Umurku sudah 40-an. Malu, ah, kalian tentu masih kanak-kanak ya?"

"Subhanallah! Sudah 40, ya? Kayaknya Mbak Pipiet jadi paling tua neh di tempat kita. Jadi, datang saja ya? Lagian biar bisa sharing... Kok Mbak Pipiet bisa bertahan begitu?”

"Husss... Itu mah gak tahu atuh. Hanya Tuhan yang Maha Tahu..."

"Makanya, datang ya Mbak, kami tunggu lho!"

Tapi aku baru bisa mendatangi gedung Thallasemia ini setelah berbulan-bulan kemudian. 

Terus terang, aku kesulitan mengumpulkan uang sesen demi sesen. Jadi kukumpulkan dulu koran-koran dan majalah bekas, barulah kulego ke warung dan punya ongkos buat jalan.

Nah, di sudut ruangan yang penuh dengan jejeran ranjang, berisikan pasien talasemia kanak-kanak, mataku menangkap sosok itu. Gadis manis berkacamata yang segera mengenaliku.

"Mbak Pipiet Senja ya?" sapanya ramah

"Iya, ini pasti mbak Vita ya?"

Maka dalam hitungan menit pun kami sudah berbincang akrab. Hari itu, aku menuruni tangga gedung berlantai tiga dengan pengetahuan baru, wawasan dan kenalan baru. Dan tentu saja harapan baru!

Kedua kalinya aku mampir di yayasan, oh, aku tak melihat lagi sosok manis berkacamata itu. Posisinya telah digantikan oleh gadis lain, Nur dan Yani namanya.         

 "Ke mana Mbak Vita?" tanyaku kepada kedua gadis itu.

"Mmm... Ibu siapa ya?" balik Yani bertanya, menatapku dengan cermat.

"Saya temannya Vita. Nama saya Pipiet Senja..."

"Oh, iya sebelum meninggal, Mbak Vita memang pernah cerita tentang Bu Pipiet," ujar Nur.

"Apa? Vita...?" jantungku berdetak keras sekali!

"Ibu belum tahu ya? Mbak Vita sudah meninggal sebulan yang lalu..."

Hari itu untuk pertama kalinya hatiku berkabung, kehilangan seorang gadis Thalassemia pertama yang akbrab denganku.

Tahun demi tahun pun berlalu, telah begitu banyak aku tertolong oleh Yayasan Thalassemia ini. Mulai dari bloodset, peralatan transfusi yang digratiskan sampai desferal dan alatnya.

Aku juga sering diberi kesempatan untuk berjualan novel. Mereka, terutama para dokter dan pengurusnya sering aku todongin untuk membeli karya-karyaku.

Mereka, ibu-ibu berhati angel itu tak pernah bisa menolakku. Pasti memborong novelku! Bahkan banyak juga yang beli novelku dengan harga jauh di atas harga toko. Alhamdulillah, ternyata penyakit seumur hidupku ini membawa berkah.

Pada 27 Mei 2005, Yayasan Thalassemia ulang tahun yang ke-18. Juga ultah ke-25 POPTI, perhimpunan orangtua penderita thalassemia Indonesia. Aku diundang oleh seorang pengurusnnya.

Kali ini petinggi yang peduli adalah Ibu Yusuf Kalla, Ibu Menkes, Ibu Fahmi Idris, Ibu Alwi Shihab. Sambil menunggu rombongan tamu datang, aku bergerilya jualan Meretas Ungu. Wah, langsung direspon sangat baik. Jadi nyesel euy, kenapa tak bawa banyak. Hehe, dasar matre!      

Rombongan Ibu Wapres pun tiba. Sambutan demi sambutan, akhirnya tiba mejenglah anak-anak thaller, sebutannya demikian. Bukannya bersukacita, ini malah mendadak dukalara. Terutama pas anak-anak "para drakula dan drakuli" ini menembang Lagu Asa, lagu kebangsaannya. Maka, tak pelak lagi terdengarlah isak tangis.

Aku sendiri tersedu-sedu, liriknya memang pas banget. Sedih nian meskipun tetap menyimpan asa. Lain kali akan kutulis liriknya.

Aku jadi terkenang kepada Vita yang pertama kali mengajakku bergabung. Ingat juga kepada Maya, Nur, dan selusin sobat dekat lainnya yang telah mendahuluiku, menghadap Ilahi.

Mereka telah terbebas dari keharusan ditransfusi dengan segala dampaknya, demikian yang menghibur hatiku.

 Semoga teman-temanku, adik-adik tersayang yang telah pergi itu diterima di sisi Allah Swt.  Semoga Allah Swt senantiasa memberkahi dan menguatkan kita dalam memaknai lakon ini.

Note:

Umurku 69 tahun Mei 2025. Termasuk Manula sudah. Sujud syukur Allah Swt masih berkenan memberiku waktu. Beberapa kali masuk ICU, dinyatakan koma. Pernah pula dikarantina di HCU Wisma Atlet 10 hari. Beberapa koas mengira aku takkan bisa keluar hidup-hidup....

Alhamdulillah masih bertahan.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama